Satu Abad NU Di Ujungjaya Sumedang Merawat Dakwah Menjaga Bangsa

 

Ketua Rois MWCNU Ujungjaya Ustadzah Aip Syarifuddin sampaikan pesan kepada para asatidz NU di Harlah satu abad. (Foto: Eko)

DENGGOL Bicara Siapa Dia:Jalan Menuju Kebenaran

SORANA.CO.ID – SUMEDANG JAWA BARAT: Pengajian dan istighotsah digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, Sabtu malam, 31 Januari 2025. Acara yang berlangsung di lingkungan Yayasan Pendidikan Islam Al Muhajirin itu menandai peringatan satu abad berdirinya Nahdlatul Ulama.

Doa-doa dipanjatkan. Ayat-ayat dan shalawat dilantunkan. Namun peringatan harlah NU di Ujungjaya malam itu tidak berhenti sebagai seremoni keagamaan. Ia menjelma ruang refleksi tentang peran NU di tingkat lokal, sekaligus tentang posisi organisasi ini dalam lintasan sejarah bangsa.

Rois MWCNU Ujungjaya, Ustadz Aip Syarifuddin, dalam sambutannya menekankan peran strategis para asatidz dan dai NU di tengah masyarakat. Ia mengingatkan agar dakwah NU tidak berjalan dengan watak eksklusif atau bahkan menyingkirkan peran ustadz yang telah lebih dulu mengabdi.

“Dakwah NU itu merawat, bukan merebut. Menguatkan, bukan menggantikan,” kata Aip. Menurut dia, kehadiran kader NU semestinya memperpanjang perjuangan para pendahulu, bukan justru menjadi beban sosial di lingkungan tempat mereka berdakwah.

Nada reflektif berlanjut dalam mauidhoh hasanah yang disampaikan Katib Syuriah MWCNU Ujungjaya, Ustadz Dede Sambas. Ia menelusuri sejarah panjang NU sejak kelahirannya lebih dari satu abad lalu. NU, kata Dede, lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari kegelisahan ulama terhadap arah dunia Islam dan tanggung jawab menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

Ia menyinggung pembentukan Komite Hijaz pada dekade 1920-an—sebuah langkah politik-keagamaan ulama Nusantara untuk memastikan keberlanjutan tradisi keislaman di Tanah Suci di tengah perubahan kekuasaan di Jazirah Arab. “NU lahir dari kesadaran sejarah dan keberanian mengambil sikap,” ujarnya.

Dalam konteks kebangsaan, Dede menyebut NU tak pernah berdiri di luar sejarah Indonesia. Sejak masa kolonial Belanda, organisasi ini kerap mengambil posisi berseberangan dengan penjajah. Sikap itu membuat NU dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah kolonial.

Memasuki masa kemerdekaan, NU memilih jalur berbeda. Dede merujuk pandangan para ulama NU tentang konsep Waliyul Amri Dharuri Bissyaukah (pemegang kekuasaan negara dalam situasi darurat ) yang pernah ditegaskan KH Abdul Wahab Chasbullah dalam perdebatan awal mengenai bentuk negara. Sikap tersebut, menurut Dede, menjadi dasar NU untuk mendukung pemerintahan yang sah demi menjaga stabilitas nasional.

“Ini bukan pembenaran mutlak terhadap kekuasaan,” kata Dede. “Ini soal menjaga negara agar tidak runtuh.”Namun, posisi strategis itu juga membuat NU kerap menjadi sasaran fitnah dan konflik kepentingan. Dede menyebut sejarah menunjukkan bahwa kekuatan Indonesia bertumpu pada dua pilar hijau: Tentara Nasional Indonesia dan Nahdlatul Ulama. Keduanya, kata dia, kerap berhadapan langsung dengan kelompok-kelompok yang ingin merusak tatanan bangsa.

Peringatan satu abad NU di Ujungjaya malam itu pun menegaskan satu hal: NU terus bergulat dengan pertanyaan lama—bagaimana tetap setia pada tradisi keulamaan, sambil menjaga relevansi sosial dan kebangsaan di tengah perubahan zaman. (www.sorana.co.id//@ ras/eko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here