
Ketua DPC PDI Majalengka H.Karna Sobahi dalam forum Kudatuli di sekretariat partai. (Foto: Ujang)
DENGGOL Bicara Siapa Dia:Menjaga Semangat Perjuangan Mengabdi untuk Rakyat
SORANA.CO.ID-MAJALENGKA JAWA BARAT: DPC PDI Perjuangan Kabupaten Majalengka menggelar refleksi peringatan Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli di Aula Sekretariat DPC PDI Perjuangan, Minggu (26/7/2026) malam. Kegiatan bertema “Merawat Demokrasi, Menjaga Semangat Perjuangan, Mengabdi untuk Rakyat” itu diisi pertunjukan teatrikal dan musikalisasi puisi yang mengangkat kembali sejarah perjuangan partai.
Pertunjukan yang dibawakan seniman Ocky Sandi Lemon dan Iman Sabumi menghadirkan suasana emosional. Ratusan kader yang hadir tampak larut dalam refleksi atas peristiwa yang menjadi bagian penting perjalanan demokrasi Indonesia.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Majalengka, Karna Sobahi, mengatakan Peristiwa Kudatuli menjadi tonggak sejarah yang melahirkan nilai-nilai penting bagi kader partai.”Ada tiga hal dalam Kudatuli, yaitu demokrasi, semangat perjuangan, dan kedaulatan rakyat. Tiga hal ini menjadi kerangka bagi penerus PDI Perjuangan untuk memahami jati diri partai,” kata Karna.
Mantan Bupati Majalengka periode 2018–2023 itu menegaskan PDI Perjuangan merupakan partai kader yang memiliki akar sejarah panjang, mulai dari Partai Nasional Indonesia (PNI) hingga ajaran Marhaenisme. Menurutnya, sejarah tersebut membentuk karakter partai yang terus berjuang bersama rakyat.
Dalam kesempatan itu, Karna juga menyinggung posisi politik PDI Perjuangan saat ini. Ia menyebut partainya akan tetap mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak kepada masyarakat, namun tidak akan ragu memberikan kritik terhadap kebijakan yang dinilai tidak menguntungkan rakyat.
“Sebagai partai penyeimbang, kami mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat, sekaligus mengkritisi dan mengingatkan apabila terdapat kebijakan yang tidak pro-rakyat,” ujarnya.
Peristiwa Kudatuli sendiri merupakan penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, pada 27 Juli 1996. Saat itu kantor partai dipimpin Megawati Soekarnoputri. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu simbol perjuangan demokrasi pada masa Orde Baru.
Sementara itu, tokoh senior PDI Perjuangan Majalengka, Ujang Dimana atau Kang UjHe, mendorong agar sejarah Kudatuli tidak hanya diperingati secara seremonial. Menurutnya, narasi perjuangan perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Saya berharap DPC PDI-P Majalengka bisa mengemas narasi refleksi ini di ruang digital, seperti media sosial atau algoritma tren saat ini, agar tidak sekadar menjadi seremonial tahunan, melainkan menjadi pemantik diskusi kritis bagi kaum muda. Dengan ini esensi dari perjuangan Kudatuli bisa dipahami dengan utuh oleh kader muda dan milenial yang sama sekali tidak pernah mengalami kerasnya hidup di era Orde Baru,” kata dia.
Melalui refleksi tersebut, DPC PDI Perjuangan Majalengka berharap nilai-nilai demokrasi, perjuangan, dan keberpihakan kepada rakyat dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari perjalanan demokrasi di Indonesia.(www.sorana.co.id//ras/@eko).































