KPK Tanamkan Integritas Dari Ruang Kelas Generasi Muda Bangun Anti Korupsi Nasional

 

DENGGOL Bicara Siapa Dia:Generasi Muda Anti Korupsi Harapan Bangsa

SORANA.CO.ID-BANDUNG JAWA BARAT:Kejujuran saat mengerjakan tugas, berani mengakui kesalahan, tidak mengambil yang bukan haknya, hingga berani mengatakan “tidak” ketika melihat kecurangan merupakan bentuk integritas yang ingin ditanamkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Upaya ini, salah satunya dimulai dari ruang kelas lewat rangkaian rencana aksi (renaksi) yang digelar di Jawa Barat, khususnya di Garut dan Bandung.

Pada kegiatan Bangun Antikorupsi Nasional: Generasi Kuat, Integritas Terjaga (BANGKIT) 2026 di MAN 1 Garut, Jawa Barat, Kamis (3/9), Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) 2 Direktorat Pembinaan Peran Serta Masyarakat KPK, Johnson Ridwan Ginting, menegaskan pendidikan antikorupsi tidak selalu dimulai dari hal besar. Namun, ruang kelas dapat menjadi media penyebaran paling efektif dan berdampak.

“Yang lebih penting, bagaimana nilai integritas itu hadir dalam pilihan-pilihan kecil sehari-hari. Karena dari kebiasaan kecil itu lah karakter dapat dibentuk,” ucap Johnson di hadapan 500 orang siswa dan siswi.

Tidak hanya di Garut, rangkaian kegiatan ini berlanjut di SMK Negeri 3 Bandung pada Jumat (4/9). Melalui Seminar Sosialisasi Pendidikan Antikorupsi, para generasi muda diajak melihat perilaku tidak berintegritas dapat muncul justru dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya menyontek, berbohong, tidak disiplin, mengambil hak orang lain, hingga membiarkan kecurangan terjadi di sekitar.

Generasi muda bukan sekadar penerima pendidikan antikorupsi, melainkan juga generasi yang kelak akan mengisi berbagai ruang strategis dan berperan penting dalam mengambil keputusan. Hal ini semakin relevan di tengah fase bonus demografi di Indonesia saat ini, sebab berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026, sekitar 69 persen penduduk Indonesia berada pada kelompok usia produktif, yang menjadi modal penting bagi masa depan bangsa.

“Sepuluh, 20, bahkan 30 tahun mendatang sebagian peserta di sini bisa menjadi pemimpin, pengusaha, aparatur, profesional, atau pengambil keputusan. Tapi, harus ditanamkan dari sekarang ketika kekuasaan datang, integritas tetap menjadi pegangan,” kata Johnson.

Dari Belajar Jadi Gerakan

Sebagai informasi, BANGKIT 2026 dan Seminar Sosialisasi Pendidikan Antikorupsi ini merupakan bagian dari implementasi Renaksi Alumni SINTESIS 2026. Program ini menjadi ruang bagi para alumni guna menerjemahkan pembelajaran yang didapatkan, menjadi aksi nyata di lingkungan masing-masing.

Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti ketika rangkaian SINTESIS selesai, namun diharapkan bergerak lebih jauh dari satu peserta ke peserta lainnya, dari ruang kelas ke lingkungan sekolah, hingga dari individu ke komunitas. Peserta didik juga turut diajak memahami nilai integritas bukan hanya sebagai teori, tapi bagian dari perilaku dan cara mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, Johnson menambahkan pemberantasan korupsi membutuhkan keterlibatan yang lebih luas. KPK tidak dapat bekerja sendiri karena pencegahan korupsi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki kesadaran dan keberanian untuk turut mengambil peran.

“Membangun budaya antikorupsi adalah pekerjaan bersama. Masyarakat memiliki ruang berkontribusi, mulai dari membangun kesadaran, menyampaikan informasi dan pendapat, memantau, hingga berani melaporkan dugaan penyimpangan,” ujarnya.

Peran serta masyarakat, kata Johnson, menjadi penting dalam pemberantasan korupsi. Masyarakat berhak mencari, memperoleh dan memberikan informasi, menyampaikan saran dan pendapat, memperoleh jawaban atas laporan, serta memperoleh perlindungan hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

“Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang kompeten, namun generasi yang dapat dipercaya ketika mendapatkan kewenangan,” jelasnya.

Dengan demikian, membangun Indonesia yang berintegritas tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan atau ruang sidang. Namun, bisa dimulai dari ruang kelas, dari keberanian siswa untuk berkata jujur, guru yang memberi teladan, hingga anak muda yang memilih tidak membiarkan kecurangan menjadi hal yang dianggap biasa.Source https://www.kpk.go.id/(www.sorana.co.id//ras/sabar sembiring sh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here