Keringat Dan Darah Taruhannya Pengakuan Kemitraan Petani Tebu HGU PG Jati Tujuh

DENGGOL Bicara Siapa Dia : Petani Tebu Keringat Dan Darah Taruhannya

SORANA CO.ID – INDRAMAYU JAWA BARAT

Lilik Rakiyah yang akrab biasa di panggil wailik petani Tebu Kemitraan HGU PG jatitujuh Asal dari Desa Tunggulpayung, Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu Jawa Barat.Panggilan akrab dilapangan sebutan Wailik sosok petani yang pekerja keras tak pernah mengenal lelah.Terik matahari membakar kulitnya menjadi hitam kecoklatan. Terima .Adzan Dhuhur berkumandang dari kejauhan, berhenti sejenak, melangkah menuju sebuah gubug kecil di tengah ladang. Hembusan angin sepoi-sepoi terasa menyegarkan tubuh yang memerah dan basah oleh keringat, sebuah botol air aqua aku minum untuk mengobati dahaga yang dari tadi ia rasakan.

Setelah merasa cukup istirahat, bergegas ke sebuah sungai kecil di samping ladang tebu berdiri mengahadap kiblat untuk melakukan ibadah solat duhur. Setelah selesai sholat, melanjutkan pekerjaan yang masih panjang membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di antara tanaman. Langit yang cerah, tiba-tiba berubah menjadi mendung, beberapa kali terdengar petir mulai menyambar Tanpa menunggu lama hujan pun turun dari langit dengan derasnya membasahi seluruh tanaman tebu yang tumbuh.

Sejenak menghentikan pekerjaan, tertegun memandang sekeliling sepi tak ada seoarangpun yang masih berada diladang tebu, Hujan kian deras, petir berderu di angkasa yang kelabu tiada bergeming dari kegiat ini, walau badan basah kuyup panas yang tadi membakar telah sirna dan berganti dingin yang menusuk tulang. Kilat menyambar seperti di depan wajahnya, petir membahana mengikuti kilat kuning emas yang merambat dari langit ke bawah, aku mengusap dada sambil berguman,“Subhanalloh…” 

Aku terdiam sebentar dan memandang sekeliling, hanya air hujan yang terlihat, dedaunan tertunduk menahan air, tiba-tiba hati kecilku berkata. “Kamu harus pulang, alam sedang tidak bersahabat, kamu  bisa celaka disambar petir, Kemudian aku memandang seluruh sudut  tanaman tebu terlihat dedaunan tertunduk kedinginan, hanya menghela nafas sejenak dan aku bergumam. Apapun yang terjadi aku akan tetap merawatmu, kami yakin suatu hari esok pasti pasti akan memanenmu.

Tak berapa lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara adzan Ashar dari kejauhan di selasela suara gemericik air yang mulai mereda, aku menghentikan pekerjan, berlajan ke tepi menyusuri pematang menuju gubug lalu melangkah pulang dengan hati bahagia, tak peduli badan basah kuyup, dingin menusuk tulang.

Demikianlah perjuanganku anak seorang petani  yang tak kenal lelah, tak peduli panas dan hujan, demi tanaman tebu, yakin dengan pasti kelak akan panen, yakin suatu hari nanti akan menikmati hasil jerih payahnya hari ini.Aku pantang menyerah menghadapi segala tantangan dan hambatan yang menghadang aku bulatkan tekad untuk mempersembahkan yang terbaik. Demikian juga kita dalam mengarungi kehidupan, kita harus punya tujuan yang jelas dan pasti yang akan kita capai esok lusa, dan kita bulatkan tekad dan segala daya upaya untuk mencapainya. Jangan mimpi semuanya akan berjalan lancar tanpa rintangan.

Menanam tebu saja pasti rumput akan ikut tumbuh, semak dan lalang. Kalau semak dan lalang tidak kita bersihkan, bisa jadi impian kita akan layu dan mati. Sebelum kita menuai sukses, tabahkah kita menghadapi penderitaan dan ujian hidup sebelum kita menuai sukses bersabarkah kita dalam menjalani proses Mari kita wujudkan impian sukses kita, walau keringat dan darah harus jadi taruhannya…! Salam sukses luar biasa! Buat petani tebu Kemitraan HGU PG Jatitujuh.( res/prapto//sorana.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here