TAFSIR PUISI MOH SOLIHIN TENTANG PEMIMPIN PETENG RUBET INDRAMAYU

 

Moh Solihin kembali menusuk tajam lewat puisinya yg viral di media sosial berjudul *Pemimpin peteng rubet Indramayu*

Ia seolah hendak berkata seperti penyair Sutardji Cholsum Bachri menulis lirik lirik kegelisahan dalam puisi “Tanah air mata’ :

*Mata air – air mata kami*

*Air mata – tanah air tumpah dukaku*

*Dibalik gempur tanahmu*

*Kami simpan perih kami*

*Tapi perih tak sanggup ku simpan lagi*

Ia merobek robek dinding dinding tebal kekuasaan yang palsu, yang ia tuding dalam puisi yang ia tulis sebelumnya berjudul *Pemimpin Buaya*, licik, piawai berpura pura, tapi merusak jiwa jiwa kolektif warga tak berdosa.

Moh. Solihin berteriak nyaris dalam kesendirian jalan *peteng rubet*. Ia berteriak dalam puisinya :

*Indramayu peteng rubet pemimpinnya*

*Indramayu peteng rubet kepemimpinannya*

Diksi *peteng rubet* adalah selimut kepalsuan,

Diksi *peteng rubet* adalah struktur kejahiliyahan

Diksi *peteng rubet* adalah jalan pemimpin yang berbohong sejak dalam pikiran.

*Masihkah kalian mendiamkannya?*

Penulis ; H. Adlan Da’i

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here