
Ilustrasi insiden pos jaga DPRD Majalengka. (Foto: chat GPT AI
DENGGOL Bicara Siapa Dia:Pelayanan Keterbukaa Informasi Publik…!
SORANA.CO.ID–MAJALENGKA ,JAWA BARAT: Sebuah insiden yang melibatkan seorang wartawan mitra Pemerintah Kabupaten Majalengka dengan oknum petugas sekuriti DPRD Majalengka terjadi di pos jaga gedung DPRD pada Rabu malam, 17 Juni 2026. Perselisihan yang bermula dari permintaan izin mengisi daya telepon genggam itu diklaim nyaris berujung adu fisik sebelum dipisahkan petugas keamanan lainnya.
Wartawan yang mengaku bernama Eko mengatakan dirinya telah beberapa kali singgah di pos jaga tersebut dan mengenal sejumlah petugas yang biasanya mengizinkannya menggunakan colokan listrik di dalam ruangan.
Namun, menurut Eko, situasi berbeda terjadi saat ia meminta izin kepada salah seorang petugas yang sedang memainkan telepon genggam.”Izin bang, boleh saya ngecharge di sini?” kata Eko menirukan ucapannya. Menurut dia, petugas tersebut menjawab, “Gak boleh, ngapain ngecharge HP di sini,” dengan nada tinggi.
Eko mengaku tidak mempersoalkan penolakan tersebut. Ia mengatakan hanya merespons singkat.”‘Oh baik bang kalau nggak boleh’,” ujar Eko.Persoalan, menurut pengakuannya, mulai memanas ketika ia mencoba menanyakan identitas petugas tersebut. Alih-alih mendapat jawaban, ia mengklaim justru menerima respons dengan nada emosional.
Merasa sikap petugas tidak profesional, Eko kemudian mengambil dokumentasi singkat menggunakan telepon genggamnya. Tindakan itu disebut memicu ketegangan baru.”Saya lanjut ngambil dokumentasi dirinya yang sedang sibuk main HP dengan durasi pendek. Tiba-tiba dia mendekat dan situasi memanas hingga nyaris terjadi kontak fisik,” tutur Eko.
Ia juga mengklaim petugas tersebut sempat melontarkan kalimat, “Gak ada urusan media-media apa,” meski sebelumnya dirinya telah memperkenalkan diri sebagai wartawan yang sedang melakukan dokumentasi di area pos jaga.
Ketegangan antara keduanya akhirnya mereda setelah sejumlah petugas sekuriti lain datang dan memisahkan mereka. Langkah itu membuat insiden yang berpotensi berujung adu fisik dapat dihindari.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak sekuriti maupun Sekretariat DPRD Majalengka mengenai kronologi kejadian tersebut maupun tanggapan atas klaim yang disampaikan oleh wartawan bersangkutan.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya standar pelayanan petugas keamanan di lingkungan fasilitas publik serta perlunya klarifikasi dari pihak terkait agar duduk perkara dapat diketahui secara utuh.(www.sorana.co.id//ras/catatan edaksi penulis)































