Soal Proyek Jalan Payung-Sadarehe DPUTR Majalengka Bantah Anggapan Keliru Soal Material Pasir

Tugu DPUTR Majalengka. (Foto: Jurnal Media Indonesia)

DENGGOL Bicara Siapa Dia:Harus Dipantau Pelaksanaan Anggaran Negara

SORANA.CO.ID- MAJALENGKA JAWA ,BARAT:Polemik yang mengiringi proyek Jalan Payung-Sadarehe di Kabupaten Majalengka mendapat tanggapan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR). Instansi tersebut menegaskan bahwa metode pekerjaan di lapangan telah mengacu pada spesifikasi teknis yang berlaku.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Kabupaten Majalengka, Albi Paramasatya, menjelaskan bahwa material pasir yang menjadi sorotan publik sejatinya memiliki fungsi khusus sebagai sand bedding atau lapisan perata untuk konstruksi pracetak, seperti saluran drainase dan paving block.

“Material ini tidak digunakan untuk pasangan batu. Sesuai Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, sebelum batu dipasang, dasar tanah harus terlebih dahulu diberi adukan setebal 2 sampai 5 sentimeter,” kata Albi melalui pesan WhatsApp, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, penggunaan pasir sebagai dasar pasangan batu justru berpotensi menimbulkan efek geser sehingga tidak direkomendasikan. Permukaan tanah asli dibutuhkan untuk membantu menahan gaya geser dan menjaga kestabilan struktur.

Albi juga menerangkan bahwa pada pekerjaan pondasi batu maupun tembok penahan tanah (TPT) terdapat lapisan batu kosong tanpa adukan atau aanstamping. Lapisan tersebut bukan kesalahan pekerjaan, melainkan bagian dari metode konstruksi.

“Aanstamping berfungsi sebagai lantai kerja, mencegah rembesan air tanah, meratakan distribusi beban, dan menjaga kestabilan tanah dasar. Setelah itu baru dibuat pasangan batu dengan adukan,” ujarnya.

Selain meluruskan aspek teknis, Albi membantah narasi yang berkembang terkait polemik tersebut. Ia menegaskan pemberitaan yang menyebut dirinya mengaitkan kritik dengan latar belakang keilmuan tidak sesuai dengan fakta.

Menurut Albi, persoalan bermula dari adanya serangan terhadap dirinya secara pribadi terkait latar belakang pendidikan. Sementara kalimat yang kemudian dikutip dalam pemberitaan merupakan pernyataannya sendiri, bukan berasal dari aktivis.

Melalui klarifikasi itu, DPUTR berharap masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai metode pelaksanaan proyek Jalan Payung-Sadarehe serta tidak terjebak pada persepsi yang keliru terhadap proses konstruksi di lapangan. (www.sorana.co.id//ras/@eko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here