Bupati Majalengka Tinjau Lokasi Sekolah :Atap Baru, Baja Tipis Dan Jejak Lama yang Belum Selesai Kisah Ambruk SD Mirat Leuwimunding Majalengka

DENGGOL Bicara Siapa Dia:Awasi Ada Temuan Laporkan

SORANA.CO.ID-MAJALENGKA JAWA BARAT: Kalau atap sekolah ambruk gara-gara bangunan tua, orang mungkin masih bisa maklum. Tapi kalau yang roboh itu bangunan yang baru berdiri tahun 2021, rasanya ini bukan lagi soal umur,ini soal kualitas yang sejak awal mungkin sudah “dipaksa cukup”.

Kasus ambruknya atap SDN 3 Mirat, Kecamatan Leuwimunding, Jumat (1/5/2026), pelan-pelan membuka fakta yang bikin dahi berlipat. Hujan deras memang datang, tapi seperti biasa, hujan cuma jadi pemicu. Penyebabnya? Lebih teknis, dan—jujur saja—lebih mengkhawatirkan.

Baja Ringan, Tapi Terlalu Ringan? Dari hasil peninjauan, salah satu sorotan utama ada pada material: baja ringan dengan ketebalan sekitar 0,75 mm. Dalam dunia konstruksi, angka itu bukan sekadar angka—itu penentu apakah atap bisa bertahan atau menyerah.

Belum lagi jarak antar kuda-kuda atap yang lebih dari 1 meter. Padahal, standar idealnya maksimal 80 cm. Selisih 20 cm mungkin terdengar sepele, tapi dalam urusan menopang beban, itu bisa jadi pembeda antara “kokoh” dan “ya sudah, jatuh saja”.

Kalau diibaratkan, ini seperti menyuruh kursi plastik menopang orang ramai-ramai—bisa sih, tapi tinggal tunggu momen yang tepat untuk ambruk.Bupati Majalengka, Eman Suherman, tidak menutup mata soal ini. Ia secara terang menyebut kualitas pembangunan harus jadi evaluasi serius.

“Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Kualitas pembangunan, terutama untuk fasilitas pendidikan, tidak boleh diabaikan,” tegasnya.Bangunan Baru, Tapi Ceritanya LamaYang menarik atau justru menggangguadalah usia bangunan yang masih seumur jagung.

Dibangun tahun 2021, tapi 2026 sudah kolaps. Artinya, persoalannya bukan di waktu, tapi di proses sejak awal.Dan di titik ini, bayangan masa lalu mulai ikut masuk ke dalam cerita.Karena pembangunan sekolah ini tentu bukan pekerjaan kemarin sore.

Ada proses perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan yang melibatkan pihak-pihak sebelumnya,termasuk pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan pada masa itu.Pertanyaannya jadi sederhana, tapi penting: apakah sejak awal kualitas sudah dikompromikan?

Atau pengawasan yang kurang galak? Atau—yang sering terjadi—semuanya berjalan “sesuai prosedur”, tapi hasil akhirnya tetap mengecewakan?Nama boleh berganti, jabatan boleh bergeser, tapi jejak kebijakan biasanya tidak ikut hilang.

Yang Sekarang Sigap, yang Lama Jangan Lolos ,Respons cepat dari Bupati Eman memang patut dicatat. Ia langsung turun ke lokasi dan menginstruksikan perbaikan menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT), tanpa harus menunggu birokrasi panjang.

“Saya minta perbaikan dilakukan cepat, dengan standar yang baik dan ada jaminan kualitas. Pengawasan harus lebih ketat,” ujarnya.Langkah ini penting, tapi juga membuka satu hal: kalau sekarang bicara pengawasan harus lebih ketat, berarti sebelumnya… ya, kita bisa menebak sendiri.

Sementara itu, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan skema darurat—memanfaatkan ruang perpustakaan dan musala. Setidaknya, yang tidak ikut runtuh adalah semangat anak-anak untuk tetap sekolah,

Kepala Dinas Pendidikan saat ini, Muhamad Umar Ma’ruf, memastikan tidak ada korban dan berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bangunan sekolah lain.Bukan Sekadar Atap, Tapi Soal Tanggung Jawab

Peristiwa ini bukan cuma soal atap yang jatuh. Ini soal bagaimana kualitas pembangunan bisa lolos, dipakai, lalu baru dipersoalkan setelah kejadian.Dan di sini, cerita tidak boleh berhenti di perbaikan fisik.Karena kalau hanya atapnya yang diperbaiki, tapi cara kerja lamanya dibiarkan, kita tinggal menunggu berita serupa—mungkin dengan lokasi dan nama sekolah yang berbeda.

Menjelang Hari Pendidikan Nasional, ironi ini terasa cukup telak: kita bicara masa depan anak-anak, tapi atap tempat mereka belajar saja belum tentu aman.Baja ringan boleh jadi pilihan. Tapi kalau terlalu “ringan” dalam kualitas dan pengawasan, yang berat justru risikonya.(www.sorana.co.id//ras/@eko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here