Mimpi Dari Bantaran Sungai Citangkurak: Sawah, Kandang Dan Agrowisata Dalam Satu Kawasan

Lokasi untuk pengembangan pertanian dan agrowisata di bantaran sungai Citangkurak. (Foto: Eko)

DENGGOL Bicara Siapa Dia:ditata menjadi ruang hijau yang produktif

SORANA.CO.ID-MAJALENGKA JAWA BARAT: Di tengah riuh pembangunan yang identik dengan beton dan aspal, masih ada sekelompok orang yang percaya bahwa masa depan kota juga bisa tumbuh dari cangkul, bibit tanaman, dan kandang ternak.

Mereka adalah Kelompok Mandiri Citangkurak. Anggotanya hanya lima orang. Jumlah yang mungkin tak cukup untuk membentuk tim sepak bola. Tapi bagi mereka, lima kepala sudah cukup untuk memulai satu mimpi: mengubah lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi di bantaran Sungai Citangkurak, Kelurahan Majalengka Wetan, menjadi kawasan tani-ternak terpadu sekaligus agrowisata kota.

Tentu saja, semua itu belum berdiri. Belum ada saung yang dipenuhi pengunjung, belum ada hamparan sawah yang jadi latar swafoto, apalagi deretan kandang yang menjadi tujuan wisata edukasi. Yang ada sekarang masih sebatas rencana. Namun, bukankah hampir semua hal besar memang selalu dimulai dari sebuah gagasan?

Inisiator Kelompok Mandiri Citangkurak, Wawan Hermawan, mengatakan kawasan tersebut dirancang agar pertanian dan peternakan tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga pengalaman belajar bagi masyarakat.

“Kami berencana mengembangkan kawasan ini menjadi sentra tani dan ternak terpadu yang sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai agrowisata kota. Harapannya, masyarakat tidak hanya menikmati suasana alam, tetapi juga memperoleh edukasi tentang pertanian dan peternakan,” ujar Wawan, Sabtu (18/7/2026).

Bagi Wawan, bantaran Sungai Citangkurak bukan sekadar lahan kosong yang menunggu disentuh ekskavator. Kawasan itu justru menyimpan peluang untuk ditata menjadi ruang hijau yang produktif. Tempat orang bisa mengenal lagi bagaimana tanaman tumbuh, bagaimana ternak dipelihara, dan bagaimana alam semestinya diajak bekerja sama, bukan terus-menerus dikalahkan.

Di kota-kota, lahan kosong sering kali berakhir menjadi bangunan. Maka ketika ada sekelompok warga yang justru ingin mempertahankan fungsi lahannya sebagai ruang hijau produktif, gagasan itu terasa seperti jeda yang menenangkan.

Wawan mengakui rencana tersebut masih berada di tahap awal. Dukungan dari berbagai pihak menjadi salah satu kunci agar mimpi itu tak berhenti sebagai gambar di atas kertas. (www.sorana.co.id//ras/@eko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here